28 views

Jawami’ul kaliim

Jawami’ul kaliim adalah sebuah kalimat yang ringkas, tapi mempunyai makna yang luas. Inilah keutamaan yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana beliau sangat fasih di dalam menyampaikan sesuatu. Kefasihan ketika menyampaikan kalimat sangat berpengaruh bagi orang yang diajak bicara. Semakin fasih sebuah kalimat, semakin mudah untuk dipahami dan diingat. Inilah salah satu kelebihan yang diberikan Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,

بعثت بجوامع الكلم (رواه بخاريّ

Artinya, “Aku diutus dengan al Jawami’ul Kalim”. (HR. Bukhari)

Inilah salah satu contoh akhlaq nabi yang mulia. Beliau adalah orang yang tidak berbicara, kecuali pembicaraannya tersebut adalah kebaikan dan bermanfaat untuk orang lain. Sampai-sampai perkataan beliau yang sedikitpun, mengandung hikmah dan pelajaran yang sangat banyak.

Berbeda dengan sebagian besar orang di zaman ini. Alangkah mudahnya mereka berbicara kejelekan, alangkah mudahnya mereka mencela dan menjatuhkan kehormatan saudaranya. Bersamaan dengan itu, alangkah sedikitnya hikmah yang bisa dipetik dari perkataannya tersebut. Bahkan tidak jarang kita dengarkan perkataan yang sesat dan menyesatkan.

Menjaga Lisan

Maka, begitu pentingnya kita menjaga lisan. Marilah kita melatih diri kita ini untuk sedikit berbicara namun banyak faidahnya, sebagaimana yang diajarkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عن أبي هريرة أنّ رسول الله صلى الله عليه و سلّم قال : من كان يؤمن بالله والآخر فليكل خيرا أو ليصمت
(رواه بخريّ و مسلم)

Artinya, dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam..”(HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Syafi’i rahimahullahu menjelaskan, “Makna hadist ini adalah hendaknya kita berpikir sebelum berbicara. Jika nampak bahwa ucapan tersebut tidak mengandung bahaya, maka berbicaralah. Dan jikanampak bahwa ucapan tersebut mengandung bahaya atau ragu apakah mengandung bahaya atau tidak, maka diamlah”.

(Fathul Qowi’ al Matin fi syarh al arba’in wa tatimmatul khomsin, Syeikh Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbaad al Badr, hal 62)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”

Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang: orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”

Al-Fudhail rahimahullahu berkata: “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”

Abu Hatim rahimahullahu berkata: “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu. Jika terdapat maslahat baginya maka dia akan berbicara. Bila tidak ada maslahat dia tidak berbicara. Adapun orang yang jahil bodoh, hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya membuat dia akan cepat berbicara. Seseorang tidak dianggap mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”

(Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban al-Busti, halaman. 37-42, dikutip dari website assyariah.com artikel “Lidah tak bertulang”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *